Setiap
pembicaraan tentang peranan politik Tentara Pembebasan Rakyat Cina (PLA) harus
diawali beberapa peringatan tertentu. Pertama yaitu kepemimpinan PLA, bukan
golongan prajurit. Sikap politik kelompok yang tersebut terakhir ini hanya
penting sejauh ia mempengaruhi disiplin. Peranan politik PLA ditentukan oleh
kops perwira dan oleh hubungannya dengan elite RRC lain yang memerintah. PLA
berkembang sebagai suatu tentara partai dan memperoleh beberapa ciri khusus
disebabkan karena ukurannya yang besar dan disebabkan sifat militer usaha
serius kaum komunis untuk memenangkan kekuasaan.
Seperti
halnya Cina sendiri, tentara Cina adalah suatu gerontocracy (kekuasaan orang –
orang tua). Sebagian besar komando tinggi militer adalah para veteran Long
March dan sebagian sudah menjadi perwira militer yang berpengalaman sebelum
kelahiran resmi Tentara Merah Cina pada tahun 1927. Kebanyakan pemimpin Cina
mempunyai tugas militer yang penting dalam pembebasan dan mempunyai
tanggungjawab politik sipil yang penting. Contohnya pada tahun 1980, adalah Yen
Cienying yang sejak 1949 merupakan tokoh militer kawakan, sekarang merupakan
calon wakil Ketua Partai Komunis Cina. Hubungan erat sesama pemimpin komunis
Cina tertinggi selama 60 tahun terakhir memang telah melahirkan hubungan –
hubungan pribadi dan klik yang melewati perbedaan militer sipil.
Di
tingkat propinsi, pemimpin PLA di berbagai daerah selama perang saudara tetap
mempertahankan fungsi – fungsi pemerintahan dan peranannya samapai Revolusi
Kebudayaan Proletar Yang Besar pada akhir dekade 1960 an. Dengan demikian
timbul perbedaan antara para pasukan regional (RF) dan pasukan induk (MF).
Perbedaan ini dipertegas oleh suatu sistem personalia yang cenderung mengunci
perwira dalam unit yang sama, sambil tidak banyak memberikan ruang di puncak
hirarki. Hal ini telah memperlambat perkembangan profesionalisme militer di
dalam PLA. Sejauh mana profesionalisme berkembang, terdapat perbedaan luas
diantara cabang dinas dan antara perwira RF dan MF.
Keahlian
profesional, tanggungjawab, dan sifat korporatif timbul di dalam PLA sampai
tingkat tertentu sejak tahun 1949. Seperti yang diramalkan oleh Huntington,
profesionalisasi telah disoroti oleh modernisasi teknik dan perwira MF yang
secara teknis lebih maju dari perwira – perwira RF, yang lebih dekat kepada
gelanggang politik sipil dan mempunyai pasukan yang secara teknis kurang
berpengalaman. Tanggungjawab utama terhadap keamanan militer suatu negara
mendorong pandangan bahwa keamanan negara terus menerus dalam bahaya dan oleh
karena itu kesiagaan militer haruslah menjadi prioritas utama setiap
masyarakat. Kesiagaan maksimum memerlukan ketertiban sosial, hirarki, pembagia
kerja, dan produktivitas ekonomi.
Suatu
tujan utama orang – orang yang turut dalam Revolusi Cina adalah menciptakan suatu
Cina yang stabil dan bersatu. Akan tetapi setelah tahn 1949, sebagian kaum
revolusioner ini, palin penting Mao Tse-tung mendorng efikasi kericuhan periodik dan revolusi yang berkelanjutan.
Tingkah laku politik komando tinggi Cina ditandai oleh keinginan profesional
akan stabilitas sosial. Praktis semua kegiatan politik-militer sejak tahun 1949
diarahkan untuk menjinakkan pengaruh radikal dan destruktif dari politik sipil.
Konflik pandangan diantara pemimpin PLA belum tentu merupakan pertikaian
intramiliter dan juga perbedaan pendapat di antara pemimpin militer dengan
pemimpin sipil belum tentu merupakan konflik sipil-militer. Sehubungan dengan
hal itu, sulit untuk mengidentifikasi pandangan militer di Cina atau bahkan
untuk pasti bahwa pandangan demikian memang ada.