Selama
permulaan dasawarsa 1960, baik sektor militer maupun sipil masyarakat Cina
mencoret banyak ciri – ciri Maois yang radikal dari lompatan Maju ke Muka. Tapi
berbeda dengan peralihan sipil ke kanan, Pembaharuan militer Lin Piao disertai
dan didasarkan dengan memberlakukan kembali tradisi revolusioner. Langkah
konkrit yang diambil adalah untuk menciptakan prajurit merah dan ahli. Sekali
Revolusi Kebudayaan Proletar Yang Besar (GPCR) berjalan, tingkah laku Lin Paou
sudah tidak lagi moderat atau profesional.
Nampaknya iamenjadi korban dari ambisinya sendiri dan keyakinan naif
akan hiperbola yang radikal dari mao.
Karena runtuhnya kekuasaan politik
sipil antara tahun 1965 dan 1969, PLA mendominasi Cina. Diakhir tahun 1966,
walaupun terdapat keinginan tegas sebagian besar komandan untuk berada di garis
sisi. Bahkan ketika militer terlibat dalam pertarungan politik di dalam di
puncak hierarki, korps perwira selebihnya sedikit, kalaupun ada menunjukkan
perlawanan terhadap teori kontrol yang Partai.
Pada bulan Januari 1967, beberapa
pemimpin tertinggi PLA, termasuk Ho Lung dan Chien-hua, dibersihkan. Pada hari
– hari berikutnya PLA didorong dan ditarik, mau tidak mau, ke dalam revolusi
kebudayaan, biasanya untuk melindungi instalasi vital dan memelihara
ketertiban. Pada tanggal 23 Januari 1967, pemimpin pusat mengeluarkan suatu
petunjuk yang sungguh – sungguh mengenai dukungan tegas PLA untuk masa
revolusioner sayap kiri. Dokumen itu menimbulkan banyak pertanyaan bagi semua
orang, sejak sekarang tuntutan kaum revolusioner sejati untuk dukungna dan
bantuan tentara harus dipenuhi. Apa yang disebut keterlibatan adalah
menyesatkan. Tidak ada pedoman mengenai problem dasar untuk mengetahui mana
yang sayap kiri proletar sejati. Nasib Lo Juiching menggambarkan kenyataan
bahwa suatu hari orang dapat dicap sebagai proletar tapi dicap diunsur
berikutnya unsur kontra revolusioner.
Selain itu ada perintah harian
tanggal 23 Januari 1967, Tentara tidak boleh berperan sebagai tempat
perlindungan serangan udara untuk segelintir pemegang kuasa partai yang memilih
jalan kapasitas dan orang – orang keras yang terus bercokol dalam lini
reaksioner borjuis. Pada pertengahan Januari, PLA ke dalam organisasi –
organisasi sipil, dimana mereka mendominasi Komite Revolusioner (RCs), dengan
unit – unit regional yang memberlakukan “ketertiban Revolusioner”. Di daerah
–daerah yang tidak mengenal RCs Komite Kontrol Militer (MCCs) dibentuk. Pada
akhir Maret 1967, semua provinsi, daerah otonom, dan distrik khusus (Kecuali keenam
yang mempunyai RCs) beada dibawah pengawasan MCCs. MCCs juga dibentuk pada
tingkat – tingkat pemerintahan yang lebih rendah, dan unti – unit produksi.
Ketika musim dingin berubah menjadi
musim semi, kaum radikal mulai melancarkan suatu ofensif baru dengan
memperketat kontrol sentral terhadap komando PLA lokal. Dalam ukuran besar
Peking mulai memindahkan , memberitahukan, dan menonaktifkan komandan dan
komisaris. Pada tanggal 6 April 1967, Komisi Urusan Militer Partai (MAC)
mencabut hampir semua wewenang pembuatan kebijaksanaan lokal mengenai
penanganan gangguan pengawal merah. Kecenderungan sentralisasi ini berlanjut
sampai musim panas.
Pemberontakan di seluruh Cina
menyerang berbagai markas militer, ketika komandan regionalnya diperintahkan
untuk dapat ke Peking. Pada tanggal 9 dan 10 Agustus, yang tersebut akhirnya
berakhir dengan pertemuan antara sentral CRG dan MAC partai, untuk mendengarkan
dua pidato penting Lian Piao, yang melarang komandan setempat mengambil
inisiatif, atau membela diri tanpa konsultasi terlebih dahulu dengan Peking.
Krisis akhir Agustus itumembuka
suatu perpecahan intramiliter yang mendalam diantara pasukan dan kadang kala
mengarah kedalam peperangan terbuka., Pepecahan antara pasukan utama dan
regional semakin kritis sekali. Insiden
Wuhan adalah konflik bersenjata yang pertama antara pasukan utama dan pasukan
daerah, akan tetapi ia kurang serius dalam arti kematian dan kehancuran.
Pada pertengahan tahun 1968, paling
tidak 20 dari 36 korps pasukan utama terlibat sebagai unit – unit pusat yang
mendukung sayap kiri. Sampai pada saat insiden Wuhan, para pasukan utama dan
perwira mereka tidak diberikan tanggung jawab propinsi atau politik regional
yang penting. Namun akibat kekurangan peralatan dan masih sederhananya persenjataan
bagi kaum utama, hampir beberapa bersedia mendorong mencapai revolusi
kebudayaan untuk mencapai kemenangan total bagi maois. Tetapi sekali pasukan
utama campur tanga,n mereka menjadi sasaran tembakan oleh sayap kiri yang
radikal karena tidak mendorong revolusi cukup keras. Kalu pasukan regional
menentang mereka karena terlalu radikal, kaum pemberontak mencoba menyeret
mereka keluardari unsur – unsur borjuis.
Mao Tse-tung sendiri nampaknya
mengambil keputusan untuk mengakhiri penarikan tentara pada bagian akhir
Agustus atau awal September . Dia melakukan suatu inspeksi kilat yang tidak
dipublikasikan melalui Cina Timur dan Cina Tengah, menjumpai militer – militer
setempat , yang membuatnya terkesan mengenai keseriusan situasi. Dengan
mempersatukan Cina dibawah kekuasaan PLA atas nama Ketua. Ternyaata perjalanan
inspeksi tersebut meyakinkan Mao bahwa inilah satu – satunya cara yang masuk
akal.
Pada tahun – tahun 1967-1968, selain
memulihkan ketertiban dan keamanan umum, tentara masih mengemban berbagai tugas
penting lainnya. Perang besar terus berlangsung hingga musim semi berakhir.
Menjelang pulihnya ketertiban, terdapat perbedaan pendapat yang serius mengenai
peranan PLA dalam masyarakat. Lin Piao ditentang oleh kaum professional yang
sudah menganut pendirian untuk menarik diri dar politik sipil. Krisis 1967
tersebut memiliki pengaruh positif, seperti yang terlihat ketika Lin langsung
menangani kasus Yang Ch’eng-wu pada bulan Maret 1968. Ia telah meminimalisir
tekanan internal dalam tubuh PLA dalam rangka melestarikan kontrol totalnya.