ABSTRAK
Menyimak merupakan salah satu keterampilan berbahasa pertama
yang harus dikuasai sebelum keterampilan berbahasa yang lain. Karena pengajaran
bahasa itu adalah mengajarkan tentang cara berkomunikasi yang baik dan benar,
baik secara lisan maupun tertulis. Supaya siswa dapat menangkap pelajaran yang
diberikan secara baik dan benar, diperlukan suatu keterampilan menyimak.
Menyimak merupakan salah satu keterampilan berbahasa yang tidak kalah penting
dengan keterampilan yang lain. Akan tetapi, guru di Sekolah Dasar pada umumnya
belum secara menyeluruh memahami hakikat dan teknik pembelajaran yang menarik
agar siswanya tidak bosan dengan teknik pengajaran gurunya. Oleh karena itu,
penulis membuat artikel sederhana ini bertujuan untuk mendeskripsikan hakikat
dan teknik guru Sekolah Dasar dalam mengajarkan teknik keterampilan menyimak
dalam sistem pengajarannya. Menyimak merupakan suatu proses mendengarkan lambang – lambang lisan dengan penuh
perhatian, pemahaman, appresiasi dan inteprestasi untuk memperoleh informasi
atau pesan yang disampaikan melalui ujaran atau lisan. Teknik yang dapat digunakan oleh guru dalam
memvariasi pengajaran menyimak di Sekolah Dasar antara lain : a. teknik
ulang-ucap (menirukan), b teknik
informasi beranting, c. teknik satu mulut satu kelas, d. teknik satu rekaman
satu kelas, e. teknik group cloze, f. teknik parafrase, g. teknik simak libat
cakap, h. teknik simak bebas libat cakap. Dengan menyimak maka kita dapat lebih
mudah menangkap materi atau informasi yang kita dengar dengan baik.
Kata Kunci : guru, keterampilan menyimak, di
Sekolah Dasar, keterampilan berbahasa.
a. Pendahuluan
Dunia keilmuan
sekarang ini mengalami perkembangan yang sangat pesat, hal ini terbukti dengan
perkembangan ilmu dan teknologi dari masa-kemasa yang mendukung kemajuan dan
kompleskitas keilmuan khususnya ilmu bahasa. Perkembangan ilmu dan teknologi
menuntut masyarakat untuk menyimak tentang informasi terbaru melalui media
handphone ,radio, televisi, maupun bertemu secara langsung. Dari keempat
keterampilan bahasa yang ada, keterampilan. menyimak merupakan keterampilan
yang harus dikuasai pertama kali. Karena keterampilan ini sering digunakan di
berbagai lembaga baik pemerintah maupun swasta.
Dalam keterampilan barbahasa, “Menyimak adalah
suatu proses kegiatan mendengarkan lambang lisan-lisan dengan penuh perhatian,
pemahaman, apresiasi, serta interpretasi untuk memperoleh informasi, menangkap
isi, serta memahami makna komunikasi yang tidak disampaikan oleh si pembicara
melalui ujaran atau bahasa lisan”. (Tarigan: 1983). Manusia adalah makhluk
individu dan makhluk sosial dalam hubungannya dengan manusia sebagai makhluk
sosial terkandung suatu maksud bahwa manusia bagaimanapun juga tidak dapat
terlepas dari individu yang lain. Secara kodrat manusia akan selalu hidup
bersama. Dalam kehidupan semacam inilah terjadi interaksi dan komunikasi baik
dengan alam lingkungan dengan sesamanya maupun dengan Tuhannya.
Guru adalah
pendidik profesional dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing,
mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi (Arnyana, 2007: 3). Untuk
menjadi seorang guru yang profesional, seseorang harus memiliki satu perangkat
pengetahuan yang akan menunjang tugasnya sebagai guru. Terkait hal tersebut
guru hendaknya memahami karakter pelajaran dan karakteristik siswa sesuai
dengan jenjang pendidikannya. Pada jenjang pendidikan Sekolah Dasar, pengajaran
bahasa sangatlah penting, mengingat kegiatan berbahasa sangat dominan dilakukan
dalam kehidupan sehari-hari baik di lingkungan keluarga, sekolah, maupun di
masyarakat.
Pengajaran bahasa
pada hakikatnya adalah mengajarkan untuk berkomunikasi. Oleh karena itu,
pengajaran bahasa adalah untuk meningkatkan kemampuan siswa dalam
berkomunikasi, baik secara lisan maupun secara tertulis. Namun untuk mampu
berkomunikasi dengan baik, siswa harus memiliki keterampilan berbahasa. H. G
Tarigan dan Djago Tarigan dalam Astawan (2008: 112) menyatakan, keterampilan
berbahasa meliputi empat aspek, yaitu (1) keterampilan menyimak, (2)
keterampilan berbicara, (3) keterampilan membaca, dan (4) keterampilan menulis.
Keempat keterampilan tersebut masing-masing berbeda dalam proses, namun
merupakan satu kesatuan yang utuh. Hal ini karena keempat aspek tersebut tidak
bisa terpisahkan dengan yang lainnya. Oleh karena itu dalam pengajaran
bahasa, siswa diajarkan tentang menyimak
terlebih dahulu, setelah itu barulah berbicara, membaca, dan menulis.
Mengingat menyimak
merupakan suatu keterampilan, maka perlu dilakukan latihan-latihan secara
terus-menerus kepada siswa. Dalam proses belajar mengajar, kegiatan menyimak
sering diabaikan oleh guru karena guru cenderung beranggapan bahwa tanpa
diajarkan pun keterampilan menyimak dapat dilakukan oleh siswa. Namun
kenyataannya kontradiktif terhadap aplikasi di lapangan, yaitu kemampuan siswa
dalam menyimak materi pelajaran tertentu masih kurang. Hal ini terjadi karena
beberapa kemungkinan, diantaranya yaitu; guru tidak mengetahui hakikat
keterampilan menyimak, atau guru belum menemukan teknik yang baik dalam
pengajaran menyimak. Selain itu tidak ada upaya guru untuk meningkatkan
kualitas pengajaran menyimak siswa terhadap materi pelajaran sehingga
menyebabkan prestasi belajar siswa menjadi kurang. Dengan adanya hal tersebut
penulis berusaha untuk memberi solusi kepada para guru supaya bisa menerapkan
teknik menyimak kepada anak didiknya di sekolah dasar.
Rumusan masalah
pada artikel ilmiah ini yakni hakikat dari menyimak dan bagaimana teknik guru
dalam memberi pengajaran kepada anak didiknya di Sekolah Dasar.
Maka dengan adanya
teknik keterampilan menyimak ini, diharapkan para siswa Sekolah Dasar lebih
mampu menangkap materi pelajaran yang diberikan oleh guru dengan baik. Selain
itu guru Sekolah Dasar di Indonesia menjadi lebih terampil dalam mengasah
keefektifan sistem pembelajaran bahasa di Sekolah Dasar, sehingga mampu
menghasilkan bibit – bibit masa depan yang berkualitas.
b.
Hakikat Keterampilan Menyimak
Sebelum
memaparkan teknik pengajaran keterampilan menyimak di Sekolah Dasar, alangkah
baiknya kita mengetahui dahulu hakikat
dari menyimak itu.
Pada
umumnya orang – orang beranggapan bahwa pengertian dari menyimak itu sama saja
dengan mendengarkan, sehingga persepsi seperti itu tidak sesuai dengan teknik
aplikasi di lapangan dan membuat kesalahan dalam proses belajar mengajar. Hal
tersebut membuat guru berfikir sederhana dalam memberi pengajaran keterampilan
menyimak di Sekolah Dasar.
a. Batasan dan Pengertian Menyimak
Dalam
bahasa Karo terdapat suatu pameo yang berbunyi
“Tuhu nge ibegina, tapi labo idengkehkenna” yang bermakna “Memang
didengarkanya, tetapi tidak disimaknya”. Antara suami dan istri dalam rumah
tangga atau antara muda-mudi pada masa berpacaran sering terdengar main – main
akan seloro, akan tetapi sebenarnya bermakna dalam yang berbunyi: “Abang sih,
main-main saja. Kalau abang cinta dengan adik, jangan sekedar isi hati adik,
tetapi harus juga menyimaknya!” Para orang tuapun sering memberi nasihat kepada
putra-putrinya: “Kalau orang tua sedang berbicara, jangan hanya sekadar
mendengar saja, masuk telinga kiri kemudian keluar telinga kanan, tetapi
simaklah, dengarkan baik-baik masukkan kedalam hati.”
Dari
nukilan – nukilan diatas dapat kita lihat bahwa terdapat perbedaan antara
mendengar dan menyimak. Dalam bahasa Inggris, padanan kata mendengar adalah to hear, sedangkan padanan kata meyimak
adalah to listen, atau dalam bentuk
gerund-nya masing-masing hearing dan listening.
Menyimak
dan membaca keduanya berhubungan erat karena keduanya merupakan sarana untuk menerima informasi dalam
kegaitan komunikasi; perbedaannya terletak dalam jenis komunikasi: menyimak
berhubungan dengan komunikasi lisan, sedangkan membaca berhubungan dengan
komunikasi tulis. Dalam hal tujuan keduanya mengandung persamaan yaitu
memperoleh informasi menangkap isi atau pesan, dan memahami makna komunikasi
(Tarigan, 1986: 9-10).
Dari uraian diatas dapatlah kita simpulkan
dan kita beri batasan bahwa Menyimak merupakan suatu proses kegaitan
mendengarkan lambang-lambang lisan dengan penuh perhatian, pemahaman,
appresiasi, serta interprestasi untuk memperoleh informasi, menangkap isi atau
pesan, serta memahami maka komunikasi yang telah disampaikan oleh pembicara
melalui ajaran atau bahasa lisan. Dalam proses menyimak, diawali dengan
kegiatan mendengarkan bahan simakan oleh siswa (penyimak), selanjutnya bahan
simakan dipahami berdasarkan tingkat pemahaman siswa yang dimaksud, kemudian
dalam proses pemahaman tersebut terjadi proses evaluasi – menghubungkan antara
topik yang disimak dengan pengalaman atau pengetahuan yang dimiliki siswa.
Setelah proses tersebut selesai, barulah siswa memberikan respon terhadap isi
bahan yang disimaknya. Jadi dapat dikatakan bahwa menyimak merupakan kegiatan
yang disengaja melalui proses mendengar untuk memahami bunyi-bunyi bahasa,
sedangkan mendengar adalah kegiatan yang dilakukan hanya sekedar tahu tetapi
tidak memahami bunyi-bunyi bahasa yang disimak.
c.
Teknik Pengajaran Menyimak di Sekolah Dasar
Teknik atau cara
pengajaran menyimak di Sekolah Dasar dapat dilakukan secara variatif untuk
menghindari kesan yang monoton terhadap strategi mengajar guru di Sekolah
Dasar. Selain itu, melalui penggunaan teknik menyimak yang beragam menjadikan
pembelajaran lebih menarik bagi siswa. Adapun beberapa teknik menyimak yang
dapat digunakan guru dalam proses belajar mengajar di Sekolah Dasar, di
antaranya adalah sebagai berikut.
1.
Teknik Ulang-Ucap (Menirukan)
Teknik ini biasa digunakan guru pada siswa
yang belajar bahasa permulaan, baik belajar bahasa ibu maupun bahasa asing.
Teknik ini digunakan untuk memperkenalkan bunyi bahasa dengan dengan pengucapan
atau lafal yang tepat dan jelas oleh guru.
Dengan
teknik ini, pertama-tama guru mengucapkan kata-kata yang sederhana, seperti
“mata”, misalnya, kemudian guru memperjelas kata tersebut dengan cara
mendemonstrasikannya; guru menggunakan jari tangannya untuk menunjuk salah satu
bagian wajahnya, yaitu mata. Langkah kedua, guru mengucapkan kata “mata” dengan
jelas dan keras, siswa diminta menyimaknya dengan baik, kemudian menirukan apa
yang diucapkan guru. Langkah ketiga, guru memberikan latihan ekstensif dengan
mengulang kata-kata yang sudah dikenalkan, kemudian menambah kosa kata serta
mengenalkan struktur kalimat kepada siswa sampai siswa dapat mengucapkan
kata-kata dengan tepat, dan akhirnya menggunakan kata itu dalam struktur yang
sederhana.
2.
Teknik Informasi Beranting
Guru memberi informasi kepada salah
seorang siswa kemudian informasi tersebut disampaikan kepada siswa di dekatnya;
begitu seterusnya, informasi disampaikan secara beranting. Siswa yang menerima
informasi terakhir, mengucapkan keras-keras informasi tersebut di hadapan
teman-temannya. Dengan demikian, kita tahu apakah informasi itu tetap sama
dengan sumber pertama atau tidak. Jika tetap sama, berarti daya simak siswa
sudah cukup baik, akan tetapi, bila informasi pertama berubah setelah
beranting, ini berarti daya simak siswa masih kurang.
Contoh:
Informasi: Emha membeli bakpau di
depan UNS bersama Emha tadi pagi.
3.
Teknik Satu Mulut Satu Kelas
Guru membacakan sebuah wacana yang dapat
berupa artikel atau cerita di hadapan siswa, dan siswa diminta menyimak baik-baik.
Sebelum siswa menyimak, guru memberi penjelasan tentang apa-apa yang pernah
disimak. Setelah guru selesai membacakan, guru dapat meminta siswa, misalnya:
a.
menceritakan kembali isi materi yang disimaknya;
b.
menyebutkan urutan ide pokok dari apa yang disimak;
c.
menyebutkan tokoh atau pelaku cerita dari apa yang disimaknya;
d.
menemukan makna yang tersurat dari apa yang disimaknya;
e.
menemukan makna yang tersirat dari apa
yang disimaknya;
f.
menemukan ciri-ciri atau gaya bahasa yang digunakan dalam wacana yang
dibacakan;
g. menilai isi dari apa yang disimaknya.
Pertanyaan-pertanyaan yang disampaikan
guru kepada siswa tentu saja harus disesuaikan dengan tujuan yang telah
dirumuskan.
Dalam
penggunaan teknik ini, guru dituntut untuk dapat membaca dengan baik sesuai
dengan jenis wacana yang dibacanya. Oleh karena itu, guru perlu menyiapkan
benar-benar bahan bacaan dan cara membacanya, jangan sampai siswa mengalami
kesulitan memahami isi yang disimaknya hanya karena pembacaan yang kurang siap.
4.
Teknik Satu Rekaman Satu Kelas
Guru terlebih dahulu menyiapkan rekaman
melalui kaset (tape recorder), CD, ataupun laptop yang berisi ceramah,
pembacaan puisi, pidato, cerita/dongeng, drama, dan sebagainya. Kemudian guru
memberi petunjuk-petunjuk sebelum kaset di putar tentang hal-hal yang perlu
disimak. Setelah itu guru memutar rekaman yang telah disiapkan sebelumnya
(dongeng, misalnya). Siswa diminta menyimak baik-baik. Rekaman dapat diputar
ulang bila siswa belum dapat mengikuti tentang apa yang diputar. Kemudian siswa
diberikan tugas menjawab pertanyaan-pertanyaan untuk menguji pemahamannya
terhadap rekaman yang disimaknya, seperti:
a.
apa tema dari dongeng yang anak-anak simak?
b.
siapa yang menjadi tokoh dalam dongeng tersebut?
c.
bagaimana watak dari tokoh tersebut?
d.
sebutkan amanat yang terdapat dalam dongeng tersebut!
e.
dan lain-lain.
5.
Teknik Group Cloze
Dalam penggunaan teknik ini, guru
membacakan sebuah wacana sekali, siswa diminta menyimak baik-baik. Kemudian,
guru membacakan lagi wacana tersebut dengan
cara membaca paragraf awal penuh, sedangkan paragraf berikutnya ada
beberapa kata atau kelompok kata yang dihilangkan. Setelah itu, tugas siswa
adalah memikirkan konteks wacana dan mengisi tempat yang kosong dengan
kata-kata atau peristilahan atau kelompok kata yang asli dari wacana yang
dibacakan sebelumnya.
6.
Teknik Parafrase
Dalam penggunaan teknik ini, guru terlebih
dahulu menyiapkan sebuah puisi untuk disimak oleh siswa. Setelah itu, guru
membacakan puisi yang telah disiapkan dengan jelas. Kemudian setelah siswa
selesai menyimak, siswa secara bergiliran disuruh menceritakan kembali isi
puisi yang telah disimaknya dengan kata-kata sendiri.
Dalam
menerapkan teknik ini, guru harus menyesuaikan dengan perkembangan kebahasaan
siswa, agar dalam pelaksanaannya dapat berjalan sesuai tujuan.
7.
Teknik Simak Libat Cakap
Sesuai dengan nama teknik ini, penyimak
terlibat dalam pembicaraan. Dalam pelaksanaan teknik ini guru dapat menugaskan
siswa mengadakan wawancara, misalnya dengan guru wali, guru pengajar bahasa
Bali, budayawan. Sebelum mengadakan wawancara, siswa diminta menyiapkan apa
yang perlu ditanyakan kepada orang yang diwawancarai. Tugas selanjutnya siswa
menyusun hasil wawancara yang kemudian diserahkan kepada guru untuk teliti.
8.
Teknik Simak Bebas Libat Cakap
Teknik ini senada dengan teknik simak
libat cakap yang mementingkan keterlibatan penyimak dalam pembicaraan. Penyimak
di sini hanya berlaku sebagai pemerhati yang penuh minat, tekun menyimak apa
yang disampaikan oleh pembicara sehingga penyimak dapat memahami isi
pembicaraan, tujuan pembicaraan, menganalisis apa yang dibicarakan, serta
akhirnya menilai isi pembicaraan.
d.
Kesimpulan
Setelah
membaca pemaparan artikel diatas maka dapat kita simpulkan bahwa, pada
hakekatnya menyimak merupakan merupakan suatu proses kegiatan mendengarkan
lambang-lambang lisan dengan penuh perhatian, pemahaman, appresiasi, serta
interprestasi untuk memperoleh informasi, menangkap isi atau pesan, serta
memahami maka komunikasi yang telah disampaikan oleh pembicara melalui ajaran
atau bahasa lisan.
Cara
atau teknik yang dapat digunakan oleh guru dalam memvariasi pengajaran menyimak
di Sekolah Dasar antara lain : a. teknik ulang-ucap (menirukan), b teknik
informasi beranting, c. teknik satu mulut satu kelas, d. teknik satu rekaman
satu kelas, e. teknik group cloze, f. teknik parafrase, g. teknik simak libat
cakap, h. teknik simak bebas libat cakap.
Dengan
demikian Dalam pengajaran menyimak, guru diharapkan memahami hakikat menyimak
dan dengan rajin secara terus -menerus menerapkan teknik-teknik menyimak dalam
kegiatan belajar mengajar di Sekolah Dasar, sehingga anak didiknya memperoleh
hasil belajar yang maksimal. Selain itu, akan terbentuklah bibit – bibit muda
bangsa Indonesia yang berkualitas.
DAFTAR
PUSTAKA
Tarigan,
H. G. 1985. Menyimak Sebagai Suatu
Keterampilan Berbahasa. Bandung: CV. Angkasa.
Rohmadi,
Muhammad dan Nugraheni, Sri. 2012. Belajar
Bahasa Indonesia (Upaya terampil Berbicara dan Menulis Karya Tulis Ilmiah).
Surakarta: CV. Cakrawala Media.
Suhendar,
M. E dan Supinah, Pien. 1992. Bahasa
Indonesia (Keterampilan Berbahasa). Seri Mata Kuliah MKDU. Bandung: CV.
Pionir Jaya.
Tarigan,
Djago. 1984. Menyimak sebagai Suatu Aspek
Keterampilan Berbahasa. Departemen P dan K. Ditjen Dikdasmen. PPPG Bahasa.
Serenade,
Aristha. 2013. “Keterampilan Menyimak”. Terdapat dalam http://aristha
serenade.blog spot.com/p/keterampilanmenyimak.htmlhttp://aristhaserenade.blogspot.com/p/keterampilan-menyimak.html.
Diakses
pada 8 Desember 2013.
Write By : Rasyiq
Courtesy Of Image From : http://odazzander.blogspot.com/2011/10/ragam-menyimak.html